AMIN AL-HUSAYNI & PALESTINA (3)

MASA AKHIR KEKAISARAN TURKI DAN AWAL ZIONISME

Saat usia Amin Al-Husayni 17 tahun (1912), saudara tuanya, yang menjabat sebagi Mufti Jerusalem, Kamil Husayni, mengirim Amin Al-Husayni bersama saudaranya, Ya’qub Al-Husayni untuk belajar di Al-Azhar University. Dia mengambil kuliah hukum Islam, teologi, philosophi dan bahasa Arab. Di sana dia juga berkesempatan menimba ilmu secara dekat dengan Rashid Ridha, seorang pengusung pan-Arabisme dan reformis Arab yang terkenal. Ridha adalah pengikut Jamaludian Al-Afghani dan Muhammad Abduh. Seringkali Rashid Ridha bermalam di rumah keluarga Amin Al-Husayni bila dia sedang mengunjungi Jerusalem. Kedekatannya dengan Rasid Ridha inilah yang kemungkinan besar menanamkan benih-benih kesadaran pada diri Amin, akan pentingnya identitas ke-Araban yang saat itu mulai dipinggirkan oleh Turki Ottoman.

Di Kairo ini pula Amin Al-Husayni disadarkan adanya gerakan zionist internasional, yang bertujuan menjadikan Palestina sebagai negara Yahudi seperti yang dicita-citakan oleh ideolog Zionist, Theodore Herzl, melalui bukungya Der Judenstaat. Pengetahuan akan bahaya Zionisme yang mengancam juga didapat ketika Amin al-Husayni bertugas di Turki, sebagai tentara Turki. Dia mendengar bahwa Theodore Herzl, pernah bertemu dengan Sultan Hamid untuk bernegosiasi, agar mau menyerahkan Palsetina kepada Zionist untuk dijadikan negara Yahudi. Walaupun akhirnya negosiasi tersebut tidak mencapai hasil, akan tetapi kecemasan itu menguat. Kesadaran ancaman ini semakin nyata, melihat pertumbuhan migrasi kaum Yahudi yang masuk ke Palestina, bertambah. Dari semula sekitar 25000 orang atau sekitar 5% dari total populasi, pada akhir abad ke-19, menjadi sekitar 85.000 orang pada tahun 1914. Kongres Zionisme Internasional yang terus berangsung tiap tahunnya mendorong prose migrsi kam Yahudi dari Eropa ke Palestina. Mereka juga aktif melobby pemerintahan Turki dan kelompok negaa-negara Eropa dan Amerika. Di Amerika sendiri, selama masa perang dunia pertama dan kedua, Supreme Court, adalah ketua Organisasi Zionist Amerila yaitu Louis Brandeis, dan Felix Frankfurther. Keduanya sangat berpengaruh pada keberpihakan Amerika terhadap dua masa kepresidenan yang berbeda dalam menduung Dekarasi Balfour. Brandeis dipercaya oleh Woodow Wilson, sementara Frankfurther menjadi penasihat Franklin D. Rossevelt.

Yahudi sendiri sebenarnya bukanlah hal yang asing di Palestina, karena komunitas ini memang sudah ada sejak awal dibandingkan keberadaan kaum Muslim dan Kristen. Pada masa kekhalifahan Turki Ottoman,diterapkan kebijakan yang memungkinkan mereka hidup dalam kondisi yang cukup toleran dengan agama-agama lainnya. Eksistensi Yahudi sebelumnya adalah sebagai sebuah agama, yang menjadi bagian yang sama dengan agama lain dalam bingkai sebuah pemerintahan. Tetapi, sejak meningkatnya kehadiran kaum Yahudi dengan wajah-wajah yang asing atau wajah-wajah dan pakaian khas Eropa memberikan sinyal tidak biasa. Gerakan ini yang didorong dengan payung gerakan zionisme internasional, sebuah gerakan politik internasional menimbulkan kecemasan bagi mereka penduduk Arab Palestina yang beragama Islam maupun Kristen. Dan pada masa dasawarsa pertama abad ke-20, sinyal kekhawatiran ini bisa ditangkap pada kaum terdidik. Amin al-Husayni, adalah salah satu dari mereka yang menangkap sesuatu yang mengancam datang dari gerakan Zionisme ini saat dia studi di Kairo.

Saat itulah, muncul ide seorang kawan Amin al-Husayni, sesama Palestina di Kairo yang beragama Kristen, untuk mengorganisasikan sebuah komunitas masyarakat Palestina yang menentang Zionisme. Organisasi kecil ini berjumlah sekitar 25 orang, terdiri dari mereka yang berlatar belakang agama Islam dan Kristen. Kesadaran akan bahaya terhadap ancaman Zionisme pada masa ini, lebih besar ketimbang ancaman kebijkan Turkifikasi. Dan Amin menyadari bahwa kerjasama antara Muslim dan Kristen dalam mempertahankan Palestina adalah penting. Tetapi organisasi ini tidak berlangsung lama, karena Amin kemudian tidak melanjutkan studinya.

Namun demikian  kerja sama untuk menentang Zionisme dengan berbagai latar belakang ideologi baik dari kaum Nasionalis, maupun Kristen tidak berhenti di sini. Pada tahun 1918, setelah kekalahan Turki dari  Inggris, Amin dengan organisasi Arab Club (Al-Nadi al-Arabi), Literary Club (al-Muntada al-Adabi) dan Muslim-Christian Association (al-Jam’iyya al-Islamsiyya al-Massahiyyah), bersatu dalam menentang Zionisme dan klaim Zionisme atas tanah Palestina. Pada tahun 1934, Amin juga memimpin Komite Tertinggi Masyarakat Arab, yang terdiri dari berbagai background, di antaranya adalah Alfred Rock yang mewakili kelompok masyarakat Katolik Yunani, sekaligus penasehat Amin Al-Husayni, dan juga Ya’qub Farraj, mewakili kelompok Orthodok Yunani. Di samping itu, anggota Komite tertinggi  masyarakat Arab ini juga berasal dari berbagai partai, seperti Partai Pertahanan Nasional (diwakili oleh Raghib Al-Nashashibi), Partai Arab Palestin (Jamal al-Husayni), Partai Reformasi (Husayn al-Khalidi), dan kongres Pemuda (Ya’qub al-Ghussayn).

Pada awalnya, gerakan nasionalisme Arab melawan Turki, ini tidak saja melibatkan Muslim dan Kristen saja, tetapi juga arab Yahudi.  Bahkan keluarga Husayni pada pertengahan Desember 1915, mengadakan sebuah pertemuan untuk menentang kekuasaan Turki dihadiri oleh Salih al-Husayni (pemilik Rawdat al-Ma’arif), Abd al-Ltf al-Rajab al-Husayni (kepala sekolah), Fakhry Husayni, adik kandung Amin al-Husayni dengan David Yellin, Albert Antebi, Yaacov Thon dan tuan rumah Eliezer Ben-Yehuda. Bahkan Hussein al-Husayni, selaku walikota Yerusalem memberikan sambutan atas pertemuan ini seperti yang dibacakan oleh Fakhry Husayni. Pertemuan ini juga dihadiri oleh Sheikh Abd al_Qadir al-Muzafir, seorang yang kemudian sangt dikenal dengan orasi yang sangat menentng zionisme dan sangat mempercaya Amin al-Husayni kelak di kemudian hari.

Pada masa Turkifikasi wilayah kekuasaan kekhalifahan Turki Ottoman di jazirah Arab, berdampak pada mereka-mereka yang berasal dari bangsa Arab yang bergabung di dalam ketentaraan Turki.  Turki Ottoman, enggan untuk mengirimkan tentara arab ini ke medan perang. Nampaknya ini karena Turki telah mencium adanya nasionalisme Arab yang mulai bangkit. Sementara di wilayah jazirah, sudah mulai terjadi pemberontakan-pemberontakan kecil yang sedikit merepotkan rejim turki ottoman. Pemerintah Turki bahkan mengeksekusi 22 orang Arab, pada pertengahan 1916. Sementara, sejak 1910-1911, isu mengenai zionisme di Palestina juga sudah masuk menggugat di ruang parlement Turki, yang diusung oleh para wakil-wakil dari provinsi Turki di Arab tersebut.

Setelah berhenti dri studi di Kairo, Amin muda kembali ke Jerusalem, dan menjalani ibadah haji. Amin kemudian masuk menjadi tentara Turki pada tahun 1915. Dan bertugas di Smyrna (Izmir). Amin al-Husayni sendiri, bukanlah tipe tentara yang kuat secara fisik. Saat menjadi tentara Turki, dia tidak menonjol dan seringkali sakit. Dia masuk dalam tentara cadangan, pernah menjadi tentara yang bertugas sekedar membantu seorang komandan Turki.  Bisa dikatakan dia tidak pernah berpartisipasi dalam perang sesungguh, hanya satu dua kali terlibat dalam tembak menembak, tidak menonjol dan dalam usia yang memang masih berkisar 20 tahun. Kurang lebih setahun, Amin al-Husayni berada dalam ketentaraan Turki. Pada sekitar February 1917, Amin al-Husayni pulang ke Yerusalem dan tidak pernah kembali lagi dalam dinas ketentaraan Turki.  Sementara keterlibatan Amin al-Husayni sebagai tentara Turki,  banyak dimanfaatkan oleh banyak penulis yang berafiliasi pada kelompok Pro-Zionist, dengan menghubung-hubungkannya dalam pembantaian kelompok kristen Armenia. Padahal  ini sama sekali tidak berdasar fakta atau sejarah sama sekali. Baik dari konteks hubungan antara Turki dengan penempatan batalyon pasukan Arab seperti disebut di atas, maupun kondisi fisik Amin sendiri.

Kecintaan Amin al-Husayni akan Palestina memang besar. Saat dia memasuki dinas ketentaraan Turki, dia menulis puisi yang dia selalu bawa dalam sakunya, : “ Inilah tanah airku, Tanah Air leluhur kami. Ku kan korbankan diriku sendiri, demi kepentingan masa depan generasi penerus bangsa ini”.

Beberapa alasan yang mendasari Amin al-Husayni melepaskan status tentara Turki, pertama tentu saja alasan fisiknya, yang mudah sakit. Kedua, yang ini menjadi alasan kuatnya adalah dimulainya revolusi Arab menentang Turki yang dideklarasikan oleh Shariff Hussein dari Mekkah. Amin al-Husayni, yang sejak di Mesir banyak belajar dari Rashid Ridha, memahami pentingnya kesatuan Arab. Sementara revolusi yang diperjuangkan oleh Amir Sharif Hussein, adalah untuk memerdekakan Arab dari Turki, sekaligus menyatukan seluruh tanah Arab, dari mulai Syria, Lebanon, Irak, Palestina, Jordania dalam satu bendera yang disebut Greater Syria.

Amin segera bergabung dalam kelompok revolusi Arab menentang Turki di bawah Faysal Ibn Hussein, putra ketiga dari Sharif Hussein, yang kelak di kemudian hari menjadi Raja Irak. Sementara Saudaranya, Raja Abdullah menjadi Raja di Trans Jordan (Jordania). Dia mencoba untuk mendorong orang-orang palestina yang pernah mendapat pelatihan ketentaran di bawah Turki Ottoman, dan mengorganisir hampir 2000 orang palestina untuk menjadi tentara Faysal dan bekerja dengan tentara Inggris di bawah Kapten C. D. Brunton. Amin dan pasukan yang direkrutnya kemudian dikirim ke Trans Jordan (Jordania) pada beberapa bulan terakhir untuk melawan Turki.

Advertisements

Leave a comment

August 12, 2016 · 2:21 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s