AMIN AL-HUSAYNI & PALESTINA (2)

LATAR BELAKANG KELUARGA

Dalam struktur sosial di masyarakat Arab di bawah pemerintahan Turki Ottoman, keluarga bangsawan menempati strata penting dalam kekuasaan pemerintahan. Mereka menjadi jembatan antara pemerintah pusat di Istambul dengan wilayah “provinsi” yang tersebar di banyak tempat di wilayah timur tengah pada masa itu. Luasnya wilayah kekuasaan Turki saat itu tidak memungkinkan mereka untuk menempatkan wakil-wakil pemerintahannya, petugas administrasi negara/wilayah langsung pada orang-orang Turki untuk tinggl secara permanen. Akan tetapi mereka akan mengangkat orang-orang lokal, menjadi bagian yang utuh dalam sistem pemerintahan mereka.

Jika di Indonesia, praktek di atas lazim juga dilakukan oleh pemerintahan Belanda yang selama ratusan tahun mendiami banyak pulau di Indonesia. Mereka mengangkat para bangsawan untuk menjadi bagian yang integral dengan pemerintah kolonial Belanda di Batavia, untuk mengatur para pribumi dan juga memungut pajak-pajak di masyrarakat di daerah-daerah. Mereka juga banyak mendidik para bangsawan dan keturunannya dengan gaya hidup dan pendidikan Belanda, terutama setelah masa politik etis diberlakukan.

Begitu juga pada masa pemerintahan kekhalifahan Turki Ottoman. Maka tidak heran pada masa itu, keluarga-keluarga bangsawan, sebut saja di antaranya adalah keluarga Husayni, Nashashibis, Khalidi, Jarralas dan lainnya, ada dalam struktur Birokrasi Turki Ottoman, baik di pusat maupun wilayah. Di antara mereka juga ada yang menjadi tentara. Bahkan salah satu keluarga Husayni ada yang menjadi mentri pada kekhalifahan ini. Hal ini lumrah mengingat Turki berkuasa ratusan tahun di timur tengah, sehingga tidak banyak yang berpikir bahwa Turki suatu saat nanti akan tergantikan dengan sebuah negara-negara merdeka, lepas dari kekuasaan kekhalifahan tersebut. Dan itu terjadi saat Turki menerapkan politik  Turkifikasi pada semua wilayah kekuasaannya di Timur Tengah, mengikuti perubahan politik di dalam negeri mereka sejak berdirinya Committee of Union and Progress, atau CUP pada 1908 yang dipelopori oleh Young Turks. Peran Khalifah kemudian lebih banyak berupa simbol, karena peran politik diambil oleh CUP.

Pada masa inilah semua hal yang berbau Arab, tidak diijinkan untuk berkembang di wilayah kekuasaan Turki. Mereka, kaum arab menghadapi apa yang disebut Turkifikasi. Misalnya, bahasa Arab tidak lagi menjadi bahasa resmi di Arab itu sendiri, digantikan oleh bahasa Turki. Ini semua adalah strategi politik untuk memaksakan keutuhan wilayah kekuasaan Turki, yang sejak akhir abad ke-19, satu demi satu lepas dari genggaman mereka. Dari sinilah kemudian muncul gerakan Nasionalisme Arab, untuk menentang Turkifikasi tersebut. Mereka yang dahulu menjadi bagian Turki, sedikit demi sedikit bangkit untuk melawan kekuasaan Turki Ottoman, dan salah satunya adalah bangsa-bangsa Arab.

Sementara kembali pada keluarga Husayni, yang merupakan salah satu keluarga bangsawan yang cukup sejahtera. Memiliki tanah di Palestina yang sangat luas. Selain keluarga Husayni, adapula keluarga-keluarga bangsawan lainnya yang juga terhormat di mata masyarakat arab Palestina, seperti keluarga Nashashibi, keluarga Khalidi, Jarallas, dan beberapa lainnya. Akan tetapi dua keluarga bangsawan yang paling terkemukan adalah keluarga Husayni dan Nashashibi. Dua keluarga ini juga sekaligus menjadi rival satu sama lain dalam memimpin masyarakat Arab Palestina.

Sebelum awal abad ke-17 sedikit sekali catatan yang diketahui tentang keluarga ini, yaitu saat pos sebagai Mufti of Jerusalem dipegang oleh Abd- al-Qadir ibn Karim al-Din al-Husayni.  Setelah jabatan Mufti Jerusalem dipegang  Abd al-Kadir Husayni, selanjutnya jabatan tersebut berpindah beberapa kali ke keluarga bangsawan lainnya, yaitu keluarga Alamis dan Jarrallas. Saat itu keluarga Abd al-Kadir husayni tidak mempunyai keturunan laki-laki. Tetapi keluarga husayni tetap menjadi penjaga  masjid suci, yaitu Al-Aqsha dan Masjid Umar, Dome of the Rock. Kemudian pada akhir abad ke-18 keluarga Husayni kembali memegang posisi sebagai Mufti kembali, dengan diselingi beberapa kali interupsi, namun tetap langgeng dalam posisi tersebut hingga abad ke-20.

Dipercayanya keluarga Husayni memegang posisi Mufti sejak bad 17 tersebut, di antaranya diperkuat oleh klaim yang mereka tanamkan sebagai keturunan nabi Muhammad dari sisi Husayn putra Ali bin Abi Thalib dengan Fatima. Ada darah biru yang mengalir di dalam silislah keluarga mereka, yang secara tidak langsung memberikan status sosial tersendiri.

Amin al-Husayni sendiri lahir pada tahun 1895 di Jerusalem. Ayahnya adalah Mufti Jerusalem, yaitu Thahir II dari istri ke dua, dan bersaudara kandung dengan Fakhri Husayni. Sementara dari Istri pertama Thahir II, lahir Kamil husayni, yang pada tahun 1908 diangkat menjadi Mufti Jerusalem menggantikan Ayahandanya, Thahir II. Saat menjadi Mufti, Kamil Husayni sangat dihormati oleh berbagai pihak, baik dari kalangan Islam, Kristen maupun Yahudi Arab sendiri. Bahkan sikap toleransi dan hormat Kamil al-Husayni atas komunitas ditunjukkan pula saat dia meletakkan batu pertama untuk pendirian universitas Hebrew.  Saat Kamil diangkat menjadi Mufti,  Amin al-Husayni berusia belum genap 13 tahun.

Ketiga putra Thahir II, Kamil, Amin dan Fakhry Husayni, ini dididik sendiri olehnya, sebagai bekal persiapan bila mereka suatu saat nanti menggantikan posisinya sebagai Mufti. Karena kedudukan mereka sebagai Mufti, mereka bertempat tinggal di area Haram Al-Shariff, yaitu kompleks di mana Masjidil Aqsha dan Masjid Omar (dome of the Rock) berada. Mereka seringkali dilibatkan dalam diskusi informal mengenai hal-hal yang berkaitan dengan agama, hukum islam dan bahkan politik dalam kehidupan keseharian yang mereka lewati. Akan tetapi, sebagai Mufti, mereka tidak terlibat banyak dalam aktivitas kehidupan politik. Wilayah tersebut ada di luar kapasitas mereka, dan memang pada masa itu, posisi bangsawan termasuk Mufti di dalamnya adalah bagian penting dalam struktur kekuasaan kekaisaran Turki Ottoman. Selain menjadi Mufti, keluarga Husayni, yaitu Hussein al-Husayni menjabat sebagai Walikota (Mayor) Jerusalem pada (1908-1918) dan kemudian digantikan oleh saudaranya Musa Kazim Al-Husayni selama masa 1918-1920.

Jadi pada masa pemerintahan Turki Ottoman di awal abad ke-20 hingga permulaan British Empire berkuasa di Palestina, keluarga Husayni memegang posisi sangat penting dalam struktur kekuasaan dan juga sosial. Posisi Walikotra Jerusalem dan Mufti di pegang oleh keluarga ini secara bersamaan pada masa akhir kekuasaan kehlaifahan Turki dan awal masa kekuasaan kolonial Inggris.

Advertisements

Leave a comment

Filed under BIOGRAPHY

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s