MENCARI PANGKAL KEKERASAN ATAS NAMA “AGAMA”: SEBUAH PROLOG

Tulisan ini adalah sebuah prolog dalam upaya saya memahami apa yang menjadi latar sebuah konflik berkepanjangan di timur tengah dan juga bagaimana pada akhirnya tuduhan Islam sebagai agama kekerasan itu berasl. Kita ketahui dalam beberapa waktu belakangan ini, banyak sekali mata dunia tertuju pada kekerasan yang terjadi atas nama Agama. Dan salah satu yang menjadi sorotan kekerasan yang “disebabkan” oleh agama adalah berasal dari agama Islam.

Palestinian_refugeesgambar diambil dari http://en.wikipedia.org/wiki/1948_Palestinian_exodus

Kenapa saya katakan salah satunya? Karena masih ada beberapa catatan saya mengenai kekerasan yang juga “disebabkan” oleh agama-agama lain. Katakanlah, kristen di Afrika Tengah terhadap muslim di sana.Kelompok Katolik Irlandia dengan Protestan yang cenderung dekat pada kerajaan Inggris. Budha terhadap Muslim di Rohingya, juga sentimen kekerasan etnis terhadap etnis lainnya yang kebetulan berlatar Kristen terhadap etnis beragama Islam, yang terjadi di Bosnia. Walaupun yang terakhir ini saya masih perlu lebih jauh memahami lagi, seberapa jauh intervensi sentimen agama dalama konflik Serbia-Bosnia ini disamping konflik etnis itu sendiri.

Dunia internasional, saat ini tertuju pula pada kekerasan yang disebabkan oleh terorisme dengan latar belakang ideologi Islam pula. Kejadian-kejadian terorisme di tahun 90-an hingga 2000-an semacam menjadi puncak representasi terorisme atas nama agama. Rentetan konflik yang sepertinya tiada akhir di timur tengah juga menjadi sorotan sebagai sebuah konflik berlatar belakang agama. Konflik Syiah-Sunni, di Iraq, dan Syria contohnya.

Sementara, di dunia Arab itu sendiri, gejolak politik yang melibatkan kekuasaan juga merepresentasikan sebuah peradaban muslim itu sendiri. Pertikaian berdarah di satu negara reda, namun kemudian muncul kembali di tempat lain. Demikian yang terjadi silih berganti. Peristiwa kudeta di satu negara, kemudian mereda, dan muncul kembali di negara lain.

Pertanyaan yang muncul di kepala saya ada apa? Apa penyebab semua ini, apakah dilatari semata oleh agama? Atuakan ini sebuah konfli kekuasaan belaka atau juga berasal dari konflikwilayah? Dan bagaimana cara mengakhiri ini semua ? Adakah sesuatu yang salah dengan Islam itu sendiri? Ataukah ini lepas dari persoalan agama atau ideologi atau semata karena kekuasaan yang mendapat bias agama ?

Bagi saya pertanyaan-pertanyaan di atas muncul tidak akan mampu di jawab jika tidak menelaah tiga hal. Pertama, memahami konteks sejarah peradaban masyarakat yang berkembang di wilayah timur tengah, dan interaksi agama-agama. Kedua, memahami hubungan dunia “Islam” timur-tengah dengan dunia Barat terutama saat memasuki akhir dari runtuhnya kekhalifahan Ottoman, sebagai penguasa wilayah di timur tengah. Ketiga, mendudukannya pada dimensi norma-norma kemanusiaan atau Hak Asasi Manusia dan tantanan hubungan internasional yang diakui secara lazim atas dasar hak asasi manusia tersebut.

Dua hal pertama di atas adalah untuk meneropong dari dimensi kesejarahan dalam menilai semangat konflik ang muncul di masa moden sekarang ini. Yang terakhir adalah mendudukan persoalan tersebut di masa modern ini, ketika instrumentasi nilai-nilai kesamaan atas derajat manusia itu sama di mata dunia.

Dengan demikian dua Thesis pertama di atas adalah sebagai sebuah acuan, bagaimana melihat interaksi agama yang muncul di kawasan timur tengah pada masa-masa awal kemunculannya, interaksi yang terjadi dalam peradaban tersebut pada masa Yahudi, Nasrani dan Islam dahulu. Dan bagaimana model dari sistem pemerintahan yang kemudian menjadi pada masa-masa sebelum perang dunia pertama.

Kenapa saya kemudian batasi hingga pada batasan perang dunia pertama? Di sinilah thesis kedua yang ingin saya ajukan. Yaitu keterlibatan dunia barat secara signifikan di era-politik modern, dalam arti dimana kekuatan senjata sudah mengalami kemajuan luar biasa dalam membantu ekspansi sebuah negara jauh ke wilayah-wilayah lainnya. Ketika itu Ottoman memegang wilayah kekuasaan yang luas, terbentang dari eropah hingga ke kawasan asia barat dan afrika utara. Namun pada periode akhir kekhalifahan ottoman dan kemudian beralih ke tangan kelompok revolusioner sekular Turki, wilayah yang selama beratus-ratus tahun menjadi kekuasaan ottoman itupun satu demi satu lepas.

Dan wilayah yang terlepas itu didahului oleh sebuah ekspansi dengan semangat kolonialisme dari inggris dan Prancis dengan membuat berbagai macam deal-deal di antara mereka dalam membagi kekuasaan masing-masing. Selanjutnya pihak Inggris sendiri di satu sisi juga melakukan kesepakatan lainnya dengan komunitas lokal untuk membantu kerajaan Inggris dalam menghadapi Turki yang salah dalam mengambil keputusan aliansi pada perang dunia pertama. Janji akan adanya penyerahan wilayah menjadi beberapa negara merdeka bagi keluarga-keluarga penguasa Jazirah Arab membantu aliansi Inggri dan Prancis dalam peperangan melawan Turki di jazirah arab ini.

Di antara negara-negara yang baru terbentuk, walaupun tidak dengan mudah, di antaranya adalah berdirinya negara Israel. Negara ini adalah terbentuk tidak sebagaimana lazimnya sebuah negara dibentuk. Klaim sebuah “etnis” yang berasal dari berbagai negara sebagai tanah leluhur yang dijanjikan tuhan menjadi sandaran berdirinya negara ini. Inspirasi pembentukan sebuah negara yang kemudian menjadi sebuah sengketa wilayah selama hampir tujuh puluh tahun.

Israel berdiri dari sebuah janji yang tertuang dalam sebuah kesepakatan antara komunitas organisasi Jewish dengan pemerintah kerajaan Inggris saat itu melalui suratnya kepada Baron Rotschild, bahwa orang Jewish Eropah akan mendapatkan tanah untuk dijadikan negara di wilayah yang saat itu menjadi bagian Jazirah Arab. Wilayah yang pada tahun 1948 secara resmi disebut sebagai negara Israel itu diapit oleh negara mesir, Syiria dan Jordania, serta berbatasan pula dengan laut meditterania.

Inilah satu-satunya negara yang dibentuk di mana kaum minoritas imigran dengan cara-cara migrasi internasional kemudian secara istimewa diberikan hak mendirikan negara di atas tanah penduduk lokal. Pendirian negara dengan minoritas kelompok pendatang tentunya tidak akan terjadi jika, pertama tidak adanya dukungan kuat dari pemenang perang dunia kedua, terutama Amerika, yang belakangan mengambil alih peran Inggris dalam merealisasikan dengan kuat dalam pengesahannya di PBB. Kedua, berlangsungnya apa yang disebut oleh Ilan Pappe sebagai Ethnic Cleansing. Yaitu suatu usaha untuk membesihkan etnis Arab dari wilayah yang oleh kaum Jewish merupakan bakal wilayah yang akan menjadi negara mereka, untuk mengurangi gap jumlah mereka yang minoritas semakin sempit dengan etnis Arab. Karena mustahil jika sebuah negara yang akan mereka dirikan namun hanya ditopang oleh kelompok minoritas saja di wilayah tersebut. Sebagai gambaran bahwa ersebut berjumlah etnis Arab di wilayah tersebut tiga kali lipat dari etnis Jewish. Sehingga sebelum negara Israel ini berdiri diperkirakan sekitar 700 ribu etnis Arab kehilangan tempat tinggal, merek terusir dari tanah mereka melalui sebuah jalan kekerasan senjata dan teror terorganisir.

Jewish dengan jumlah saat itu sekitar 300 ribu orang pun akhirnya menjadi sebuah negara. Berdirinya negara ini menimbulkan ketidakpuasan dari negara-negara sekitarnya. Maka tidak terelakkan lagi perang pun terjadi seiring dengan pembentukan negara Israel ini. Dari sinilah kemudian, cikal bakal dimulai keriuhan konflik dan kekerasan terus berlangsung di timur-tengah ini.

Akan halnya sebuah konflik, maka gelombang kekerasan adalah sebuah naluri manusia yang sudah ada sejak dahulu kala. Mereka bisa dimunculkan dengan alasan apapun. Dan semangat perlawanan untuk mencapai cita-cita itu juga bisa diinspirasi dari berbagai macam bentuk. Salah satunya adalah Ideologi agama. Lantas, apakah kemudian ideologi agama, dalam konteks ini adalah Islam menjadi identik dengan ideologi kekerasan? Mudah-mudahan saya sanggup untuk menuangkan jawaban atas pertanyaan lanjutan dari prolog ini dalam tulisan berikutnya.

Advertisements

Leave a comment

Filed under Politik Internasional

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s