MELIHAT KEMBALI KONFLIK PALESTINE – ISRAEL DI GAZA 2014

Apakah yang menyebabkan perang antara Israel dengan Palestina (Hamas) begitu brutal dan memakan banyak korban masyarakat sipil terutama perempuan dan anak-anak? Apakah ini adalah memang praktek human shield, menempatkan warga sipil sebagai pelindung, untuk memberikan citra buruk pada Israel atas kemanusiaan di dalam perang tersebut sembari menaikkan posisi tawar Palestina/Hamas? Ataukah ini memang hal yang sudah biasa dilakukan ? Apa yang mendasari begitu banyak korban itu harus jatuh? Adakah interpretasi ideologis untuk melegitimasi korban tersebut? Pertanyaan ini menggayuti pikiran saya selama ini.

10574259_756154597754691_7133752924598617433_n2

Saya mencoba untuk menuangkan pikiran saya di tulisan ini dan dua tulisan berikut. Semoga bisa memberikan gambaran lebih jauh bagaimana kita memahami persoala kemanusiaan ini atas konflik berkepanjangan Palestina dan Israel.

Perang 50 hari di Gaza (7 Juli – 26Agustus 20140), menurut Pedana Mentri Israel Benyamin Netanyahu dalam siaran persnya adalah untuk melindungi rakyat sipil Israel dari serangan roket dari Hamas dan tidak ditujukan kepada rakyat Sipil.

(http://mfa.gov.il/MFA/PressRoom/2014/Pages/Statement-by-PM-Netanyahu-8-July-2014.aspx ).

Kebanyakan Pers di manca negara menyebutkan bahwa ini adalah kelanjutan peristiwa penculikan 3 remaja Israel di Tepi Barat yang diduga dilakukan oleh Hamas. Penculikan ini terjadi pada tanggal 12 Juni 2014, dan pemerintah Israel mengerahkan tentara mereka untuk melakukan pencarian tersebut hingga akhirnya ditemukan ketiganya dalam keadaan meninggal. Balasan pun dilakukan dengan membakar hidup-hidup seorang remaja Palestina di Tepi Barat bernama Muhammad Abu Kdeir, 17 tahun yang dilakukan oleh kelompok ekstrim Israel.   ( http://www.theguardian.com/world/2014/jul/05/palestinian-boy-mohammed-abu-khdeir-burned-alive ).

Dari perang Israel dengan Hamas yang dimulai pada tanggal 8 July 2014, lalu telah memakan korban begitu banyak. Menurut catatan United Nation Office for The Coordination of Humanitarian Affairs,  Occupied Palestine Territory (UNOCHA) tercatat jumlah korban di pihak Palestina sebanyak 2131 orang mati sementara di pihak Israel 71 orang. Pengungsi yang ditampung di shelter-shelter pengungsian PBB (UNRWA) dan sejumlah penampungan penduduk lainnya sebanyak 110 ribu orang, akibat dari 18 ribu rumah hancur lebur. Dari sejumlah pengungsi tersebut, total 108 ribu jiwa benar-benar kehilangan tempat tinggal, atau tidak lagi bisa ditinggali. Sementara secara keseluruhan 450 ribu jiwa tidak mempunyai akses terhadap air bersih sama sekali karena kerusakan parah dari infrastruktur yang ditimbulkan oleh hantaman bom-bom yang dijatuhkan oleh pasukan Israel dari udara di wilayah Gaza tersebut.

Dari sedemikian besar korban jiwa yang diderita oleh warga Palestina tersebut,  hampir 70%-nya atau 1457 jiwa adalah korban sipil. Dimana korban perempuan sebesar 257 jiwa dan anak-anak 501 jiwa. Sementara jumlah korban di pihak Israel sebesar 71 orang dengan korban tentara 66 jiwa dan 5 orang sipil. Data perbandingan jumlah korban antara sipil di pihak Israel dan di pihak Palestina amat jauh. Hal ini menimbulkan kecaman pedas dari dunia internasional. Kutukan terhadap apa yang terjadi pun ditujukan kepada Israel baik secara resmi atas nama negara, maupun organisasi internasional. Demontrasi pun pecah di banyak negara merespon perang di Gaza ini.

Berbeda dengan apa yang semula diungkapkan PM Netanyahu, bahwa srangan hanya ditujukan pada Hamas bukan kepada rakyat sipil. Selanjutnya Israel merespon ini dengan mengatakan bahwa pihak Hamas telah melakukan Human Shield. Mereka telah menggunakan masyarakat sipil untuk berlindung sekaligus melancarkan serangan ke wilayah Israel melalui peluncuran roket-roket dari rumah-rumah penduduk, sekolah, dan masjid. Banyak negara memandang ini sebagai propaganda Israel namun tidak kurang juga yang mempercayainya.

Uni Eropah mengecam inisebagai human shield. Ini dnyatakan dalam statement resminya dari pertemuan Brussel tanggal 22 Juli 2014. Mereka mengecam keras Hamas karena karena melancarkan serangan roket-roket ke arah wilayah Israel yang menimbulkan korban jiwa di pihak rakyat sipil. Juga mengecam Hamas yang menggunakan masyarakat sipil sebagai pelindung mereka dalam melancarkan serangan. Sementara Uni Eropa juga memahami bahwa Israel mempunyai hak untuk melindungi rakyatnya dari serangan tersebut. ( http://eu-en.europa.eu/articles/en/article_15300_en.htm ). Tentu saja PM Netanyahu senang karena sejalan dari apa yang dinyatakan oleh PM Israel itu di awal operasi ini.

Tidak banyak media yang memahami bahwa sebelum terjadinya peristiwa penculikan tiga remaja Israel pada 12 Juni 2014 di West Bank, dua orang remaja Palestina sudah menjadi korban penembakan tentara IDF Israel lebih dahulu. Inilah yang sesungguhnya memicu respon Hamas dan warga palestina terhadap Israel dengan penculikan tersebut. Kedua remaja  Palestina itu pun mati diterpa peluru panas saat demonstrasi tahunan memperingati Hari Nakbah (Hari malapetaka) pada taggal 15 May.

Tanggal itu bagi Israel adalah hari kemerdekaan saat berakhirnya British Mandate di Tanah Palestina, namun adalah hari Malapetaka bagi Palestina. Kemerdekaan Israel adalah bayang-bayang terusirnya 750 ribu rakyat Palestina, yang sudah mendahalui sebelum tanggal tersebut akibat operasi yang sistematis dari Israel melalui Angkatan bersenjata Israel Haganah yang mempunyai beberapa Brigade di bawahnya, dan berlanjut terus di tengah perang 1948 dengan Arab. Menurut Ilan Pappe, Haganah melakaukan proses pembersihan Etnis dengan tujuan menghancurkan, mengusir, rakyat Palestina atau juga merebut Infrastruktur yang dimiliki di kota-kota yang dihuni saat itu ke tangan pasukan Haganah. sebanyak mungkin Rakyat Palestina dari desa-desa, dimana menurut partition plan PBB mereka berada di wilayah cikal-bakal negara Israel nanti. (Ilan Pappe’, 2004, A History of Modern Palestine, One Land Two Peoples, p.130)

Kembali pada perstiwa penembakan pada demonstrasi tahunan hari Nakbah 2014 itu, yang merenggut nyawa Nadeem Nawarra dan Muhammad Abu El Daher dan melukai satu orang remaja lainnya, Muhammad Azzeh. Dari hasil Forensic architecture yang dilakukan oleh Defence for Children of Palestine melalui gambar yang diambil oleh CNN dan siknronisasi melalui camera CCTV saat penembakan saat tentara IDF yang digunakan adalah peluru tajam bukanlah peluru karet. (https://www.youtube.com/watch?v=u0nG5Q9ZuE8).

Pemerintah Israel menerapkan aturan bahwa untuk menangani demonstrasi tak bersenjata dan bukan skala besar adalah menggunakan peluru karet bukan peluru tajam. Akan tetapi, aturan ini tidaklah mengikat dengan ketat bagi tentara IDF. Mereka seringkali melanggar tanpa ada satupun sangsi apabila mereka melakukannya dengan peluru tajam, terutama jika itu ditujukan pada warga Palestine. Respon tentara IDF diduga seringkali berlebihan, dan inilah yang menyebabkan banyak jatuh korban jiwa.

Sebagai contoh saya bisa ungkapkan di sini, Doron, mantan tentara Israel telah memberikan kesaksiannya kepada NGO “Breaking the Silence”. (Note: Breaking the Silence adalah Ngo yang didirikan oleh tentara IDF dan verterannya, untuk memberikan testimoni akan apa yang terjadi selama masa mereka bertugas). Saat melakukan operasi sehari-hari dan melewati kamp pengungsi El-Fawar yang miskin, mereka berhadapan dengan demonstran anak-anak, salah satunya melemparkan molotov. Menurut Doron, tidak terjadi apa-apa terhadap lemparan tersebut. Mereka bisa saja meninggalkan area tersebut, sehingga akan tenang kembali. Namun komando tentara, meminta mereka untuk menembak mati anak tersebut. Tentara yang ditugaskan itupun bertanya, mereka anak kecil dan bisa saja kita tangkap dan tidak perlu ditembak. Namun sang komandan kembali mengulang, “Anda, dengan ortoritas yang saya punya, saya perintahkan untuk menembak mati”. Maka saat kesempatan berikutnya, peluru tajam pun menerjang anak berusia 12 tahun itu. Dan nyawapun teregang. Tidak ada sangsi hukum atas kasus tersebut, karena di kesatuan tersebut salingmenutupi. Dan tidak ada satu pun media yang menangkapnya. https://www.youtube.com/watch?v=aOyo07Kd2gg

Jika kita mau memahami, maka tragedi yang terjadi sehari-hari di Palestina, adalah berupa penembakan, penghancuran rumah, kekerasan para pemukim Yahudi sayap kanan, pengambilan paksa tanah-tanah, pembakaran tanaman zaitun, penangkapan, penggeledahan, penahanan, pemeriksaan berlebihan di check point, diskriminasi dan lain-lainnya adalah keseharian, baik di West Bank ataupun di Jalur Gaza di daerah yang sesunggunya bukan wilayah Israel. Itulah sebabnya kenapa perlawanan tidak pernah berhenti, baik oleh warga sipil, faksi-faksi pejuang di west bank atau pun dari Hamas di Gaza. Kematian hampir dipastikan menjemput warga palestina tanpa ada ekspose media. Berbeda dampaknya apabila satu orang nyawa melayang di pihak Israel, maka nyawa mereka harus dibayar dengan harga tinggi oleh berlipat nyawa warga palestina, terutama rakyat sipil mereka. Peristiwa Juli-Agustus 2014 menjadi contoh terburuk bagi kita tentang hal itu.

Tanpa menyebut data di Gaza, maka korban meninggal di West Bank, menurut snapshot UNOCHA tanggal 26 September 2014, sejak January hingga May 2014 (sebelum peristiwa penculikan) sudah mencapai 11 orang palestina dan luka-luka sebanyak 1008 orang. Ini sekadar gambaran bahwa kekerasan dengan korban jiwa dan luka-luka sudah mendahului lebih dahulu di pihak warga sipil Palestina. Agar persepsi yang selama masyarakat selama ini bisa di kembalikan kepada realitas sesungguhnya yang ada. Saya tidak ingin mengatakan bahwa dengan demikian menculik 3 remaja Israel menjadi sah, akan tetapi memperbaiki rentetan persitiwa bersambut ini pada proporsinya, bahwa tragedi korban jiwa, bukanlah dimulai di pihak Israel lebih dahulu seperti selama ini diungkapkan otoritas resmi pemerintah Israel ke Media massa internasional.

Tudingan kepada hamas dalam melakukan penculikan tersebut di wilayah west bank yang sesungguhnya bukan wilayah kekuasaan mereka, harus dibayar oleh warga Gaza yang ratusan kilometer jauhnya dari peristiwa tersebut. Entah penculikan tersebut benar atau tidak dilakukan oleh Hamas tidak ada yang mampu mengkonfirmasi. Gencatan senjata 26 Agustus 2014 patutu disyukuri. Namun di balik itu semua adalah bencana baru kemanusiaan yang menyayat hati. Tidak saja kehilangan anggota keluarga, tempat tinggal atau rumah, infrastruktur air bersih, listrik dan jalan-jalan lumpuh.

Akan tetapi herannya tidak ada sangsi apapun oleh dunia atas penghancuran yang berlebihan tersebut. Sejak 1948 hingga tahun 2012, sudah 77 resolusi PBB dikeluarkan kepada Israel berbanding satu kepada Palestina, tanpa ada dampak sekalipun terhadapa perbaikan hubungan dan perilaku sebuah negara. Apakah memang dunia sudah dikalahkan oleh keangkuhan sebuah etnisitas?

Advertisements

Leave a comment

Filed under Politik Internasional

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s