INTERPRETASI RELIGIUS ATAS KORBAN SIPIL WANITA DAN ANAK-ANAK DALAM PERANG GAZA

Lebih dua ribu dua ratus jiwa melayang dalam 50 hari operasi Protective Edge yang dilancarkan Israel di Gaza. Tuduhan adanya Human Shield dilancarkan Israel dan kalangan pendukungnya. Adakah korban jiwa yang jatuh itu dilatar belakangi oleh sentimen relijius Atau sebuah interpretasi ideologis? Saya akan coba paparkan dalam tulisan di bawah ini.

_76312076_578ea086-829b-4a3f-9f33-210d5632a7bf

Dari perspektif Hamas dengan ideologi perjuangan organisasi berdasarkan “keislaman”, korban yang dituduhkan sebagai Human Shield sulit untuk dicari jejak ideologisnya. Artiya, Islam sendiri tidak membenarkan untuk mengorbankan diri untuk kebuah kematian demi sebuah tujuan. Tidak satu ayat pun mendorong untuk melakukan korban jiwa tanpa perlawanan di medan peperangan. Orang sering menafsirkan dengn Jihad sebagai seuah metode aksi perlawanan. Sebenarnya Jihad it sendiri mempunyai arti luas. Bisa dikatakan jihad adalah upaya untuk melakukan perjuangan demi sebuah kebaikan, membela yang hak dari kebathilan, yang dilakukan dengan cara yang sejalan dengan nilai-nailai keislaman. Sehingga hal yang terlihat sederhana dalam keseharian kita seperti, mencari nafkah, menuntut ilmu, bisa dikategorikan sebuah bentuk Jihad juga. Namun baiklah untuk tulisan ini saya bersepakat mengkategorikan jihad dalam peperangan seperti yang sering kita

dengar dari semangat perjuangan pejuang-pejuang Hamas.

Arti jihad secara singkat adalah berjuang. Maka makna dari berjuang itu sendiri adalah makna yang aktif. Artinya melakukan secara aktif suatu usaha.

Jika kemudian, dalam kontek wacana Human Shield disebut sebagai sebuah bentuk Jihad, maka sama sekali tidak benar. Karena, tidak ada usah perjuangan secara aktif di sana. Dasar ideologis untuk membenarkan usaha human shield atau memakai rakyat sipil sebagai korban tidak lebih usaha diluar konteks ideologi. Tidak berhubungan sama sekali dengan nilai-nilai keagamaan. Dua hal yang berbeda dari naturenya.

Sehingga saya tidak akan berpanjang argumentasi untuk menempatkan korban sipil dalam bentuk Human Shield sebagai sebuah dorongan atau interpretasi ideologi dari HAMAS untuk melakukan itu.

KERANGKA IDEOLOGI ISRAEL DALAM BERNEGARA

Minggu lalu Perdana Mentri Israel mengajukan Bill of Nation State for Jewish People, negara bangsa bagi orang-orang Yahudi. http://rt.com/news/208139-israel-jewish-state-bill/ . Nampaknya bukan sesuatu yang baru. Tetapi ada perbedaan mendasar. Jika dahulu mereka menyebut negara mereka sebagai negara Yahudi dan demokrasi, kini istilah itu tidak lagi dikenal sebagai pondasi dasar negara. Negara hanya mengenal dan mengikatkandirinya pada orang0orang yang berdarah asli Yahudi.  Walaupun Bibi, panggilan singkat Benyamin Netanyahu, mengatakan tidak ada diskriminasi, rasanya akan sangat suit diphamai. Terminologi Negara untuk kaum Yahudi saja sudah merupakan makna dekriminatif. Artinya, akan ada perbedaan perlakuan antara mereka yang bukan merupakan orang-orang jews.

Dari total populasi 8,9 Juta orang warga negara Israel, saat ini non-jews mencapai hampir 25% atau 2 juta orang dengan 20% di antaranya adalah orang-orang Arab, sisanya non-jews dari berbagai bangsa. (http://www.jewishvirtuallibrary.org/jsource/Society_&_Culture/newpop.html).

Ide pendirian undang-undang yang hanya mengenal bentuk nasionalisme hanya ditujukan pada satu etnik ini merupakan ide dasar yang mudah dipahami saat pendirian negara ini. Dari Theodore Hertzl, ide pendirian dan zionisme ini lahir tak lain adalah guna menampung bangsa yahudi dari segala penjuru dunia untuk bersatu mempunyai tanah air mereka sendiri. Melalui berbagai pertimbangan, pilihan mereka jatuhkan untuk kembali ke tanah Palestina, sebagai tanah leluhur mereka sebagai cikal bakal sebuah negara Yahudi. Palestina menjadi sebuah keyakinan sebagai tanah yang “Dijanjikan” oleh tuhan buat bangsa Israel.

Seiring dengan ide pendirian negara Yahudi yang pada awalnya berkiblat pada pilihan “demokrasi” sebagai sendi negara kini diperkuat oleh gagasan hanya mengakui bangsa Yahudi sebagai pemilik sah negara Israel ini. Dengan demikian pandangan negara seperti ini mereduksi nilai “demokrasi” yang mereka anut. Tetapi ide sebuah negara yang hanya mengakui nilai simbolik nasionalisme kebangsaan hanya untuk orang Yahudi saja bisa dipahami dari apa yang diungkapkan oleh Oren Yiftachel.

Bentuk negara seperti ini lebih menegaskan gagasan sebuah negara Ethnokrasi yang disebut oleh Oren Yiftachel untuk negara Israel. Sejak awal Oren tidak melihat negara Israel sebagai sebuah enegara demokrasi. Karena negara ini dibentuk dengan mendasarkan diri pada etnisitas, dan menurut Oren, negara yang memusatkan kekuatan etnisitas sebagai kekuatan dominan atas etnis lainnya, dan menjaga segenap kekuasaan tetap pada etnis tersebut disebut sebagai negara ethnokrasi. Bukan sebuah negara demokrasi namun juga bukan negara aotoritarian juga.  Bentuk etnisitas sebuah negara akan disimbolkan dengan sistem yang berdasarkan etnik, dalam ini akan diimplementasikan dalam bentuk Yahudisasi sistem kenegaraan yang mereka anut. (Yiftachel, Oren, 1998, “Ethncrasy: The Politic of Judaising Israel/Palestine”’, Constellation : International Political Journal of Criticsand Democrasy Theory, Vol. 6. 3: 364-390, 1998).

Dahulu, pada masa-masa awal berdirinya negara Israel, migrasi (Aliyah) yang dilakukan oleh bangsa Yahudi dari segala penjuru dunia, yang diinspirasi oleh phrasa talmudic itu, kini juga telah melembaga dalam hukum negara Israel. Pemerintah Israel menggaransi dan membuka lebar-lebar migrasi tersebut hingga kini dalam bentuk Law of Return, hak bagi kaum Yahudi dari penjuru dunia untuk pulang kembali ke tanah leluhur mereka danmenetap di sini. Law of Return ini pertama kali di sahkan pada tanggal 5 July 1950 di bawah kepemimpinan Ben Gurion sebagai perdana mentri pertama Israel. Untuk menjamin sebuah negara Yahudi sudah barang tentu, mereka harus memastikan bahwa entitas dominan di negara tersebut adalah bangsa Yahudi. Maka tidak heran menjelang proses pembentukan negara Israel dan masa-masa beberapa waktu sesudahnya, negara Israel gencar melakukan upaya pembersihan wilayah mereka dari etnis lainnya.

Melalui angkatan bersenjata mereka, Haganah dan Palmach, Israel melakukan apa yang disebut oleh Ilan Pappe sebagai etnich cleansing. Mereka mengambil dan menguasai tanah dan infrastruktur milik rakyat. palestina secara paksa. Jika mereka melawan maka, Haganah tidak segan-segan untuk mengusir dan bahkan membunuh mereka. Separuh desa-desa di Palestina dibumi hanguskan oleh bangsa Israel dalam kurun waktu 1947-1948, saat konsep pembagian wilayah negara yang digagas british Mandate dan PBB gagal menemui kata sepakat. ( Ilan Pappe, 2006, “The Ethnic Cleansing of Palestine”, Oxford : Brandbury Publication Limited ).

Kini undang-ndang mengenai Nation State fro Jewish People hanyalah menegaskan Israel sebagai negara Etnokrasi yang akan banyak melakukan Yahudisasi secara formal atas sistem negara maupun sosial negara tersebut. Yahudisasi juga kuat kaitannya dengan interpretasi agama atas tindakan atau simbol-simbol sistem sosial. Interpretasi ini tentunya akan menjadi wilayah otoritas orang-orang yang telah diakui sebagai ulama Yahudi.

Ketika agama dijadikan pula pertimbangan dalam keputusan politik atau juga masuk dalam wilayah konflik politik maka ini aka menjadi sangat berbahaya. Rabbi menjadi simbol pribadi yang penting dalam masyarakat Yahudi. Mereka yang berpandangan relijius sangat menghormati apa yang dikatakan oleh Rabbi mereka. Bahkan institusi Rabbi juga memutuskan apakah seseorang berhak disebut Yahudi atau tidak, atau berhak diterima kepindahannya menjadi Yahudi atau tidak. Nilai keyahudian seorang yang mengkonversi dirinya ke dalam Yahudi ada di bawah keputusan dewan Yahudi ini (Gorenberg, Gershom, 2011,” The Unmaking of Israel”, Harpers COllins.).

Sementara bagi kelompok sekular adalah lawan dari kelompok relijius. Walaupun Israel menyebut dii sebagai negara Yahudi, namun tidak serta merta masyarakat mereka menjadi fundamentalis semua.  Kelompok yang merasa bukan bagian dari orang-orang relijius atau fundamentalis, biasanya mendapatkan pendidikan di sekolah atau perguruan tinggi umum, sementara kelompok Yahudi fundamentalis kebanyakan mereka yang mendapatkan pendidikan dari sekolah-sekolah agama Yahudi (Yeshivot). Seperti halnya pembagian kelompok relijius, umum dikenal ada yang merujuk sebagai kelompok relijius moderat namun ada juga kelompok relijius fundamentalist.

Pertanyaannya yang muncul kemudian adalah kelompok relijius manakah yang mempengaruhi pemerintah israel dalam mengambil posisinya sebagai negara Yahudi.

Jika kita terlibat mengamati dari hari ke hari dinamika politik dan sosial di Israel, maka kita akan mudah mengidentifikasi kemana bentuk pemerintahan Israel ini mengarah. Melalui pengamatan setiap orang yang berkuasa atau tampil dalam kekuasaan atau orang yang menelurkan kebijakan atau produk hukum tersebut. Akan tetapi sebagai awam, tindakan yang dilakukan oleh pemerintah selama ini juga bisa menghasilkan kesimpulan yang bertendensi pula. Kita tinggal memahami apakah tindakan politik, kebijakan yang dikeluarkan itu sesuai dengan nature sebuah pemahaman kelompok moderat atau kelompok relijius fundamentalis atau ortodoks.

Pemerintahan moderat cenderung lebih menyerap aspirasi dan mengarahkan pemerintahan ke arah yang lebih demokratis. Sementara pemerintahan yang dipengaruhi oleh kelompok relijius, atau menurut Shahak Israel lebih dipengaruhi oleh kelompok fundamentalis atau ortodoks akan lebih cenderung berafiliasi pada sifat-sifat kelompok yang anti demokrasi dan lebih mementingkan kelompok, dan selalu menjaga kelompok minoritas ada dalam tekanan. Ini sejalan dengan bentuk negara etnokrasi tadi. (Shahak, Israel and Norton Mezvinsky, 1999, ” Jewish Fundamentalism in Israel”, Pluto Press).

Lebih lanjut Shahak Israel mengatakan bahwa kelompok Fundamentalist Yahudi adalah mereka yang memandang masa lalu sebagai masa keemasan dan berusaha membangkitkan dan menempatkan kemudian mempertahankan kembali masa lalu itu dalam bentuknya yang murni di masa kini. Kelompok ini juga menganggap bahwa kebebasan manusia terutama untuk berekpresi bertentangan dengan nilai-nilai keyahudian. Bagi mereka tidak ada kesamaan derajat bagi setiap warga negara yang bukan beragama Yahudi dan mereka memandang rendah kelompok n Yahudi ini, karena mereka percaya bahwa Yahudi lebih superior dan bahkan memandang bahwa dunia tercipta utamanya buat orang-orang Yahudi itu sendiri. (ibid.)

MILITER SEBAGAI BAGIAN INSTITUSIONALISASI IDEOLOGI

Dalam konstalasi politik, Israel saat ini diusung oleh kelompok sayap kanan. Artinya kelompok yang mempunyai kecenderungan pengusung ideologi fundamentalis Yahudi. Benyamin Netanyahu berasa dari partai sayap kanan, yaitu partai likud. Akan teapi adalah partai Nationalis religious Party, yang mendorong anggotanya masuk menjadi dalam jajaran kemiliteran atau Israel Defense Force (IDF).

Sebelum tahun 1967 partai ini amat kurang keterlibatannya didalam kemiliteran, sehingga kurang mendapat sokongan dari pemilih. Akan tetapi setelah 1967 secara perlahan NRP mendorong pengkiutnya ambil bagian di dalam kemiliteran. Mereka menjadi prajurit yang berdedikasi, berani dan siap berkorban untuk negara. Dan masyarakat Yahudi begitu antusias dan menyambut positif peran NRP dalam IDF. (Ibid., p.86)

Maka angkatan bersenjata Israel, IDF mendapat dukungan spirit keyahudian melalui pendukung partai ini yang menjadi tentara IDF. Rupanya Institusionalisasi keYahudian di dalam ketentaraan harus lebih dipertegas lagi. Maka kemudian Kementrian Pertahanan bekerja sama dengan pimpinan NRP mendirikan Hesder Yeshivot. Hesder Yeshivot adalah sekolah agama yang mengajarkan kitab-kitab talmudic namun juga sekaligus menjadi bagian atau batallion tersendiri di dalam IDF. Dengan pembagian waktu bagi mereka antara belajar dan bertugas sebagai tentara. Kebanyakan alumni Hesder Yeivot ini melanjutkan karir mereka di militer setelah mereka menyelesaikan studinya.

Tentara yang berasal dari Hesder Yeshivot ini terkenal sebagai militer yang sangat cakap dan berada di atas rata-rata militer umumnya. Mereka sangat tangguh dan banyak memenangi peperangan. Salah satunya adalah saat perang lebanon, begitu juga saat menghadapi gelombang Intifadah. Mereka dikenal dengan tindakan kejamnya terhadap rakyat Palestina. Jika ada penugasan yang lebih memerlukan perlakuan khusus dan menekankan pada kekerasan, maka IDF akan bergantung pada kelompok tentara relijius ini, karena mereka memang lebih bisa berlaku kejam dibandingkan dengan tentara regular dari kelompok sekular. (ibid., p.87).

Tahun 1999 juga Militer kembali membentuk sebuah batallion khusus dengan nama Netzach Yehuda. Batallion ini mirip dengan mereka yang berasal dari Heder Yevivot. Namun batallion ini khusus bertugas di daerah Tepi Barat, West Bank. Mereka memeriksa setiap warga arab palestina yang menurut mereka dicurigai sebagai teroris. Begitu juga mereka bertugas di setiap check point, di mana setiap harinya rakyat palestin selalu melalui area tersebut. Jika ada konflik di tepi barat, maka batallion ini dipastikan ada di garis depan.

Unit ini mengikuti aturan dan koordinasi yang kuat dengan perkumpulan kaum rabbi. Komando pasukan tidak bisa melakukan apapun tanpa koordinasi dengan Rabbi, kata Ze’ev Drori, seorang kolonel dan juga ilmuwan militer yang melakukan penelitian atas Netzach Yehuda. Saat melakukan kunjugan, Ze’ev menyaksikan seorang prajurit zionist yang sedang menaikkan moral pasukannya mengatakan, “Kita menekankan dan membela orang-orang Yahudi di atas negara”. Ariel Eliahu, seorang letnant di IDF yang sekaligus adalah cucu dari Mordechai Eliahu, seorang rabbi radikal yang melakukan banyak kekerasan pada masa mudanya dahulu. Ariel mendorong semangat ke-Yahudiannya dengan banyak mengutip torah dan mengatakan, bahwa Tanah Israel adalah milik bangsa Israel baik dari sejarah maupun keputusan tuhan. (Gorenberg, Op.Cit., p.132) Penegasan semangat jargon keagamaan dalam kemiliteran merupakan ciri batallion ini.

Demikianlah, yahudisasi yang disebut oleh Yifthacel, kini melembaga, terinstitusionalisasi dalam tubuh tentara Israel, IDF.  Tindakan militer sangat dipengaruhi akan kekuatan relijius fundamentalis pasukan tersebut yang diinspirasi oleh pimpinan komando yang terasosiasi dengan para Rabbi. Semangat pertempuran mereka lebih menyerupai semangat membela kesucian agama dan kebesaran umat Yahudi. Mungkin mirip-mirip semagat mereka yang bertempur dalam perang salib abad ke-12 dahulu.

Dan menurut riset yang dilakukan oleh seseorang yang menyembunyikan identitasnya namun telah dimuat di dalam jurnal lokal Israel, Ma’arachot, telah terjadi peningkatan signifikan jumlah tentara relijius. Angka-angka itu semula dari sekitas 2,5% pada tahun 1990 meningkat tajam menjadi 31,5% pada tahun 2007. (Haaretz, 5 September 2010, http://www.haaretz.com/print-edition/news/sharp-rise-in-number-of-religious-idf-officers-1.313861 ). Dan melihat trend tersebut memungkin terjadinya penambahan hingga 2014 ini.

MENGOPERASIKAN INTERPRETASI RELIJIUS DALAM KONFLIK

Dari paparan di atas itulah maka sebuah kesimpulan bisa kita petik, bahwa perang antara Israel dengan Palestina di mana rakyat sipil menjadi korbannya, termasuk di dalamnya adalah wanita dan anak-anak merupakan pula korban interpretasi relijius, pemerintah Israel yang dipengaruhi kelompok fundamentalis ini. Peran tentara IDF terutama sekali yang berlatar kelompok religius fundamntalis, begitu juga pemerintahan Israel turut bertanggung jawab langsung atas kekejaman yang terus menerus berlangsung dan berulang dari masa ke masa.

Rabbi-rabbi fundamentalis telah mendorong pula terjadinya tindak kekejaman tersebut. Dan bukan tidak mungkin, mereka menjadi penguat motivasi atau spirit relijius bahkan tidak kurang memberikan semaam petunjuk atau fatwa, yang terefleksi dalam keputusan politik di pemerintahan dan militer. Kelmpok fundamentalis Yahudi memandang bahwa orang-orang non-Yahudi bernilai lebih rendah dibandingkan orang Yahudi. Mereka, para Rabbi mendorong, apa yang dikatakan oleh Ilan Pappe’ sebagai ethnic cleansing tersebut seperti tercermin dalam petunjuk Rabbi Yitzhak Saphira seorang kepala Yeshiva di Nablus.

Rabbi Yitzhak Shapira tahun 2009 mengeluarkan buku apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam membunuh non-Yahudi. Buku yang diberinama Torat ha-Melekh (Ajaran Raja) berisi 230 halaman berisi petunjuk membunuh orang-orang non-jews dalam perang baik yang terlibat langsung ataupun tidak langsung dalam perang, termasuk di dalamnya bayi-bayi non-Yahudi, jika diperkirakan akan mengancam kehidupan kaum Yahudi jika tumbuh besar nanti. (http://coteret.com/2009/11/09/settler-rabbi-publishes-the-complete-guide-to-killing-non-jews/ ). Petunjuk ini didistribusikan ke banyak sekolah-sekolah relijius maupun partai politik sayap kanan yang menyambut dengan hangat kitab tersebut.

Hal senada juga diungkapkan oleh Rabbi Dov Lior, dari pemukiman Kirbat Arba, yang mengijinkan membunuh orang-orang tak bersalah di dalam wilayah perang dan mengijinkan penghancuran Gaza dan memutuskan atau memblokade area termasuk listrik dan supply lainnya selama operasi Protective Edge Juli-Agustus 2014 lalu. http://www.presstv.com/detail/2014/07/23/372448/israeli-rabbi-kill-civilians-in-gaza/  begitu juga sumbernya dapat diperoleh di sini juga mengatakan bahwa, menyeranglah dengan keji pada para penyerang tanpa perlu membedakan apakah mereka itu orang-orang yang terkait langsung atau orang-orang lugu. Segala hal yang berkaitan tentang kemanusiaan dan pertimbangan lainnya masih dapat diperdebatkan. http://972mag.com/nstt_feeditem/israeli-rabbi-its-okay-to-kill-innocent-civilians-and-destroy-gaza/

Kenapa pembunuhan kejam ini bisa mendapatkan support penuh dari para Rabbi dan benar-benar diimplementasikan oleh pemerintah Israel melalui tentara-tentaranya?  Seperti yang saya paparkan sebelumnya bahwa berdirinya negara ethnokrasi Yahudi dan sangat dipengaruhi oleh kelompok relijius fundamentalis orthodok yang menempatkan superioritas kelompok mereka atas non-Yahudi. Mereka selalu akan bercermin dan berpikir bahwa masa lalu adalah masa keemasan dan harus dibangkitkan kembali dan dijaga keberlangsungannya. Apa yang terjadi di masa lalu bisa dijadikan pijakan pula dalam mengambil keputusan di masa kini demi kembalinya masa keemasan tersebut.

Jika kondisi ini terus berlangsung, maka sebenarnya perdamaian itu sendiri tidak akan pernah tercapai. Karen Armstrong melihat kecenderungan adanya kaitan erat perang masa lalu dengan di masa kini, seperti yang ditulis dalam bukunya Perang Suci. Ayat suci dalam bentuk teks itu, tidak lagi dibaca sebagaimana teks bagi sebuah hikmah namun teks yang bisa menjadi sebuah perulangan, legitimasi melakukan hal yang sama di masa kini.

“Setelah wafatnya Musa, Yosualah yang pada sekitar tahun 1200 SM memimpin orang-orang Israel menuju Kanaan dan membangun dua belas suku di tanah yang dijanjikan  melalui operasi militer yang sungguh-sungguh kejam. Yosua memenuhi perntah Tuhan secara sempurna. Para lelaki, perempuan, anak-anak, dan bahkan binatang-binatang dibantai, sementara kota-kota dihancurkan menjadi puing reruntuhan :

“Segera sesudah orang Israel selesai membunuh seluruh penduduk kota Ai di padang terbuka ke mana orang Israel mengejar mereka, dan orang-orang ini semuanya tewas oleh mata pedang sampai orang yang penghabisan, maka seluruh Israel kembali ke Ai dan memukul kota itu dengan mata pedang. Jumlah semua orang yang tewas pada hari itu, baik laki-laki maupun perempuan, ada dua belas ribu orang, semuanya orang Ai. Yosua membakar Ai   dan membuatnya menjadi timbunan puing  untuk selama-lamanya, menjadi tempat yang tandus sampai sekarang”. (Yosua 8: 24, 25, 28)

Demikian Karen Armstrong menjelaskan kejadian masa itu (Armstrong, Karen, 2004, “Perang Suci Dari Perang Salib Hingga Perang Teluk”, Jakarta:Serambi, hal.35).

Apakah kemudian dasar legitimasi para Rabbi maupun pemerintah Israel dengan tentara IDFnya tersebut, dalam memutuskan pembunuhan di jaman modern ini mengambil legitimasi dari masa lalu?. Bisa jadi. **** Selesai

Advertisements

Leave a comment

Filed under Politik Internasional

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s