HUMAN SHIELD?

Tragedi Gaza July-Agustus 2014 yang menimbulkan korban jiwa sebesar 2143 orang dengan 70% di antaranya adalah rakyat sipil non-kombatan, wanita dan anak-anak telah menimbulkan banyak pertanyaan atau tepatnya tuduhan. Pertama, yaitu adanya strategi Hamas untuk berlindung dibalik rakyat sipil. Kedua, Apakah ini memang kebiadaban yang dilakukan oleh Israel secara sadar? Dua buah tuduhan yang ujungnya adalah sama yaitu dugaan atas kehendak atau rencana menjadikan rakyat sipil, anak-anak dan wanita sebagai korban. Jika tuduhan  ini benar, apa sesungguhnya latarbelakang yang melegitimasikan mereka berbuat keji seperti itu?

image.adapt.480.low.gaza_damage_091114

Saya mengambil dua titik tolak untuk mendalami dugaan adanya faktor kesengajaan atau niatan untuk menjadikan rakyat sipil sebagai korban. Pertama adalah memasukkannya sebagai suatu strategi perang untuk mencapai tujuan tertentu. Kedua, sebagai sebuah interpretasi ideologis relijius. Mungkin agak asing berpikir tentang interpretasi ideologis untuk mengesahkan rakyat sipil, terutama wanita dan anak-anak sebagai korban. Tapi dalam tulisan saya pada bagian ketiga setelah ini, saya coba akan menggali dengan berbagai referensi yang mendasarinya. Adanya dugaan Ideologis ini saya dasari, karena dua kubu yang terlibat di dalam konflik mewakili dua buah komunitas yang kental akan ikatan ideologi agama mereka. Israel sering menggaungkan sebagai negara Yahudi berhadapan dengan Hamas, yang berhaluan Islam.

Hamas, yang sejak 2 November 2011 ini dimasukkan oleh pemerintah USA sebagai bagian dari daftar kelompok teroris terutama setelah peristiwa 11 September 2001. Sebelumnya Presiden Bil Clinton sudah memasukan Hamas sebagai bagian dari Teroris di bawah Executive Order 12947 tahun 1995. (Sara Roy, 2011, “Hamas and Civil Society in Gaza”, New Jersey: Prnceton Unviersity Press. p.1).

PERDEBATAN HAMAS DAN HUMAN SHIELD

Istilah Teroris dan juga Pejuang untuk Hamas, bagi banyak kalangan menimbulkan perdebatan baik dari definisi maupun realitas yang bisa membedakan antara tindakan teroris di satu sisi dengan tindakan klaim bahwa ini adalah perjuangan, walau terlihat ekstrem.  Dikatakan ekstrim, karena Hamas banyak menyiapkan orang-orang yang siap melakukan tindakan bom bunuh diri untuk mencapai maksud perjuangannya.

Dugaan bahwa human shield ini adalah sebuah  strategi perang Hamas tentunya dengan tujuan tertentu. Seperti banyak pengamat ungkapkan, kemungkinan ditujukan untuk mendapatkan simpati masyarakat dunia dan memojokkan israel dan membuat Israel semakin terisolasi dalam kerangka hubungan internasional. Terutama sekali agar tekanan internasional terhadap Israel lebih besar guna mengakhiri pendudukan dan kebijakan kontrol represi atas rakyat palestina baik di Gaza dan West Bank berakhir. Israel memberikan bukti-bukti video yang menunjukkan bahwa roket-roket diluncurkan dari pemukiman padat, rumah-rumah dan sekolah-sekolah. Tetapi, Ghazi Hamad, juru bicara dan sekaligus mantan deputi mentri luar negeri Hamas mengatakan, bahwa peluncuran roket yang dilancarkan oleh militan Hamas dari lokasi yang padat memang adalah sebuah kesalahan, akan tetapi menurutnya, lokasi peluncuran tetap mempunyai jarak dengan gedung-gedung atau pemukiman publik sekitar 150 Yard. (http://www.dailymail.co.uk/news/article-2753176/Hamas-DID-use-schools-hospitals-Gaza-Strip-human-shields-launch-rocket-attacks-Israel-admits-says-mistake.html ).

Pernyataan Ghazi Hamad ini sebenarnya menunjukkan bahwa Hamas, kesulitan melakukan koordinasi dengan para pejuang militant yang ada di dalamnya. Kesulitan ini mungkin bisa dipahami, karena selain kepemimpinan Hamas bertempat tinggal di Doha Qatar, juga dalam beberapa peristiwa kita bisa melihat kelemahan koordinasi itu terjadi.

Sebagai contoh, saat peristiwa penculikan tiga orang remaja Israel sebagai respon atas matinya dua orang remaja Palestina saat demonstrasi tahunan Nakba beberapa minggu sebelumnya, diakui bahwa penculikan itu dilakukan oleh militan Hamas tanpa sepengetahuan dan persetujuan pimpinan Hamas. (http://edition.cnn.com/2014/08/22/world/meast/israel-teens-death-hamas/).

Penculikan ini berujung pada pembalasan Israel dengan melakukan operasi Protective Edge. Penculikan yang dilakukan Hamas sebelum ini, biasanya berujung pada tawaran imbal balik dari pemerintah Israel, semisal saat Hamas menculik tentara Israel Gilad Shalit pada tahun 2006 kemudian disepakati dengan imbalan pembebasan atas 1027 rakyat Palestina yang ditahan oleh Israel pada tahun 2011 atau lima tahun sesudahnya. Sementara penculikan yang dilakukan atas 3 remaja Israel yang berujung pada kematian, menunjukkan latar belakang balas-membalas atas kematian dua remaja Paletina sebelumnya. HAMAS tidak menawarkan pilihan barter tawanan pada kasus ini. Artinya bisa kita simpulkan bahwa peristiwa penculikan, walaupun diakui dilakukan oleh anggota militan HAMAS tidak menggambarkan sebagai sebuah kebijakan organisasi, namun lebih pada keputusan individu, terlepas dari keanggotaannya sebagai militan HAMAS. Peristiwa penculikan ini tidak ada nilai strategis baik bagi Hamas maupun bagi rakyat Palestina keseluruhan.

Satu contoh lain adalah saat peristiwa percobaan pembunuhan Khalid Messal yang gagal dilakukan oleh dua orang agents Israel di Jordania, yang kemudian berhasil ditangkap oleh pengawal Messal setelah kejar-kejaran di jalan. Kedua agen Israel yang tertangkap itu kemudian dilepaskan dengan syarat pertukaran tahanan dengan pemimpin sekaligus ideolog HAMAS saat itu Sheikh Ahmad Yassin. (Laura King, “Hamas Founder Returns Home to Gaza Strip; Netanyahu Tries
to Explain Prisoner Exchange to Israelis,” Associated Press, October 7, 1997.)

Di sini Hamas terlihat mampu mempertimbangkan secara logis, posisi tawar mereka untuk setiap nyawa warga Israel terhadap para tahanan warga Palestina. Sebuah keputusan yang bersifat straegis ini tentuya ada sebuah keputusan organisasi atau terkoordinasi. Berbeda dengan apa yang terjadi dalam peritiwa penculikan 3 remaja Israel di West Bank yang merupakan balasan atas terbunuhnya dua remaja Palestina dua-tiga minggu sebelumnya yang tidak memberikan dampak balik secara strategis baik bagi HAMAS maupun rakyat Palestina umumnya.

Kenapa ada semacam apology dari pimpinan Hamas atas tudingan human shield dengan menyatakan bahwa aksi dari pemukiman padat adalah kesalahan?

Kita bisa melihat bahwa Hamas adalah organisasi perlawanan yang didirikan hampir bersamaan dengan peristiwa Intifada pertama tahun 1987. Anggota militant Hamas adalah sukarelawan yang datang dari berbagai kalangan. Bahkan Brigade Al-Qassam, brigade khusus dari Hamas sendiri anggotanya datang dari berbagai profesi. Seperti mahasiswa, dokter, insinyur, pekerja kantor, dan lain sebagainya. Mereka biasanya membawa dan menyimpan persenjataan mereka sendiri, seperti roket-roket. Selain roket berkuaitas baik hasil produks dari Iran (china), banyak pula rakitan yang mampu diproduksi sendiri oleh masing-masing kelompok militan yang tersebar di banyak tempat itu. (http://www.globalsecurity.org/military/world/para/hamas-qassam.htm).

Jarak tempuh roket bervariasi antara 3 hingga 45 km. Diameter fisik roket dari yang terenda sekitar 6cm hingga 12 cm dengan panjang antara 80cm sampai 3 meter. Tidak heran, jika pada masa operasi protective edge lalu, persentase keberhasilan roket dalam mencapai sasaran sangat kecil. Sebanyak 280 roket bahkan jatuh di wilayah Gaza, dan hampir separuh jatuh di wilayah kosong. Inilah juga yang menyebabkan korban di pihak Israel akibat oleh roket-roket ini tidak seberapa bila dibandingkan kerusakan dan korban balasan dari Israel.

Karena militan Hamas datang dari banyak kalangan dan persenjataan yang lebih fleksibel untuk di bawa-bawa, bisa dipahami walaupun bukan sebuah pembenaran, jika saat perang lalu, banyak roket-roket yang diluncurkan dari berbagai area publik, dimana para militan bermukim. Militant anggota Hamas seperti sudah disebutkan sebelumnya, tersebar sebagai masyarakat biasa pula, dan mereka membawa atau menyiapkan sendiri persenjataan mereka termasuk peluncur roket. Inilah yang kemungkinan respon spontan para militan tersebut untuk membalas serangan Israel.

Israel mengatakan bahwa Hamas meluncurkan roket dari gedung sekolah, masjid dan rumah sakit. Tetapi dari hasil video dan investigasi lokasi, menunjukkan lokasi berjarak dengan gedung-gedung publik tersbut. (Dailimail.co.uk, 12 September 2014,  http://www.dailymail.co.uk/news/article-2753176/Hamas-DID-use-schools-hospitals-Gaza-Strip-human-shields-launch-rocket-attacks-Israel-admits-says-mistake.html ).

Dari berbagai video yang ada pertanyaan yang muncul kemudian adalah seberapa dekat lokasi peluncuran roket tersebut dengan gedung atau area publik. Dan apakah kondisi demikian konsisten dilakukan oleh Hamas. Apakah Israel juga tidak terlalu berlebihan melakukan pembalasan terhadap infastruktur publik dan mengakibatkan jatuhnya masyarakat sipil tidak bersenjata hingga mencapi 70-an persen dari total korban?. Pertanyaan ini memang sulit dijawab karena masing-masing puya argumentasi mereka masing-masing.

MELACAK PENGALAMAN KORBAN SIPIL

Satu perspektif yang bisa kita ajukan dalam melihat kasus ini adalah melalui berbagai pengalaman yang terjadi selama ini dan seberapa jauh keterlibatan pasukan yang bertikai terutama Israel sebagai pihak yang mempunyai persenjataan yang lebih canggih terlibat dalam pelanggaran kemanusiaan tersebut.

27 Desember 2008. Saat itu tengah hari, pukul 12.30. Saat di mana jam giliran sekolah pagi baru saja usai. Anak-anak pun beranjak pulang dari sekolah berganti gilir dengan mereka yang masuk di siang hari. Orang tua juga bersama dengan anak-anak, baik yang menjemput maupun yang mengantar ke sekolah. Siang hari itu, di mana Gaza dengan populasi sekitar 1.8 Juta jiwa dengan luas area 300km2, adalah saat jalan-jalan dipadati oleh warga dengan aktivitas mereka, terutama para pelajar. Tiba-tiba, sebuah serangan udara datang dari wilayah udara Israel, dan sekejap rentetan rudal diluncurkan. Tepat pada kerumunan pelajar di jalan dengan wajah-wajah riang itu. 195 korban kebanyakan anak-anak mati seketika.

(TheGuardian,27Desember2014, http://www.theguardian.com/world/2008/dec/27/israelandthepalestinians).

Operasi Cast Lead menyebabkan 1400 orang rakyat Palestina meninggal selama periode 27 Desember 2008 sampai 18 January 2009. Sebanyak 300 orang anak-anak dan 115 wanita terbunuh, 240 polisi yang tidak ikut serta dalam pertempuran terbunuh termasuk puluhan polisi yang sedang melakukan upacara di depan markas kepolisian Hamas pada hari pertama serangan operasi Cast Lead dilancarkan.

Pemerintah Israel juga menyatakan, bahwa Hamas telah menjadikan wanita dan anak-anak sebagai pelindung mereka. Amnesty Internasional dalam laporannya mengenai operasi Cast Lead, tidak menemukan fakta Hamas menggunakan masyarakat sipil sebagai pelindung mereka bahkan tidak ditemukan bukti pula bahwa mereka menggunakan gedung pubik atau dekat area publik. (Amnesty International Report, 2009, “Israel/Gaza, Operation Cast Lead : 22 Days of Death and Destruction”, p.8).

Namun ironisnya, dalam laporan itu saat dilakukan wawancara dari Amnesty International kepada Mentri Dalam Negeri Israel Meir Sheetrit, perihal jumlah korban sipil yang diderita oleh Israel dan Palestina, “Kenapa anda memaksakan jumlah korban hingga 100 kali lipat dibandingkan korban yang jatuh di pihak anda?”. Dan sang mentri menjawab, “Itu memang tujuan dari operasi ini, memang anda pikir bagaimana?”.

18 November 2012, di tengah Operasi Pillar Israel, adalah keluarga Al-Dalaou yang harus kehilangan 12 anggota keluarga. Lima orang anak-anak dan 4 orang wanita mati, oleh terjangan bom dari serangan udara pasukan Israel di tengah kota Gaza. (UNHCR, 2013, “Report of the United Nations High Commissioner for Human Rights on the Implementation of Human Rights Council resolution S-9/1 and S-12/1”). Israel menuduh, bahwa salah satu anggota keluarga Al-Dalou terkait dalam brigade Al-Qassam, Hamas.

Akan tetapi, jikapun ada bukan berarti sebuah pembenaran melakukan tindakan militer atas bangunan milik sipil dan menghancurkannya tanpa pandang bulu sehingga memakan korban orang-orang yang tidak terkait di dalamnya. Itu sama sekali tidak dibenarkan. Demikian laporan UNHCR sebagaimana Amnesty International pada laporannya juga mengidentifikasi detail korban-korban sipil yang merupakan pelanggaran atas hukum kemanusiaan internasional.

Contoh-contoh di atas adalah gambaran bagaimana perlakuan Israel atas rakyat Palestina terutama dalam operasi militernya di Gaza. Israel melakukan tindakan militer atau perang terhadap segala hal yang berkaitan dengan anggota Hamas. Baik itu dari mulai institusi pemerintahan, anggota parlemen, lembaga-lembaga swasta dan ekonomi bahkan hingga kepada keluarga. Tindakan militer Israel serupa dengan apa yang dilakukan di daerah pendudukan lainnya di Tepi Barat atau west Bank. Setiap korban yang jatuh di pihak Israel, baik warga sipil atau Militer, maka balasannya bukan saja pada pelaku, namun juga yang terkait dengan pelaku, baik barang-barang hak milik pribadi atau keluarganya. Benjamin Netanyahu menyebutnya sebagai Collective Punishment, hukum yang merambat kepada segala hal terkait pelaku. http://mondoweiss.net/2014/11/controversial-demolitions-collective

Collective Pusnishment khusus di Gaza rupanya tidak saja berupa blokade ekonomi secara total dengan menutup pintu akses keluar masuk gaza baik dari laut, darat dan udara, tetapi juga dalam bentuk kekerasan melalui senjata. Maka collective punishment untuk kasus Gaza adalah penghancuran keseluruahn wilayah, baik infrastruktur jalan, bangunan, sumber air bersih, listrik atau juga mental dan jiwa rakyat Palestina di Gaza. Ini dilakukan dalam berbagai aksi operasi, seperti saya sebutkan beberapa operasi tersebut di atas. Dan bentuk Collective Punishment ini adalah melanggar konvensi keempat Jenewa tahun 1949 yang kemudian diadopsi dan disahkan PBB sebagai hukum yang mengikat baik oleh negara yang meratifikasi maupun yang tidak meratifikasi hukum ini.

Lantas, apakah kekerasan Israel yang sedemikian rupa hanyalah sebuah aksi yang dilakukan baru-baru ini saja terkait dengan munculnya Hamas sebagai sebuah gerakan baru perjuangan rakyat Palestina sejak 1987?

Terlalu banyak fakta yang bisa kita beberkan bahwa kekejian yang dilakukan atas korban sipil wanita dan anak-anak ini sesungguhnya berlangsung sudah sejak proses pembentukan negara Israel dahulu. Ilan Pappe menyebutnya sebagai upaya pembersihan Etnis, demi tercapainya sebuah negara yahudi. ( Ilan Pappe, 2006, “The Ethnic Cleansing of Palestine”, Oxford : Brandbury Publication Limited ).

Proses Ethnic Cleansing ini dimulai pada November tahun 1947, saat PBB membuat rencana Partition Plan. David Ben Gurion mengoperasionalkan dalam bentuk konsep yang dituangkan dalam sebuah rencana yang mereka sebut Rencana D. Ini adalah sebuah skenario untuk memastikan bahwa Negara Israel dapat terbentuk dengan melakukan tindkan offensive terhadaprakyat Palestin berikut tanah dan kekayaan infrastruktur lainnya, termasuk di dalamya milik pemerintahan sementara British Mandate. Penghancuran, pengusiran atau pembunuhan bagi yang melakukan perlawanan adalah tindakan yang harus dilakukan oleh militer Israel Haganah dan Palmach saat itu. Karena tidak mungkin mendirikan negra Israel dengan populasi saat tahun 1947 sekitar 450 ribu orang berbanding 900 ribu orang di wilayah cikal bakal negara Israel, tanpa melakukan pengambil alihan hak atas tanah, property yang ada di atas tanah dan kemudian mengusir orang-orang Palestina di desa-desa dan kota-kota dalam wilayah tersebut. Tidak mungkin sebuah negara Israel terbentuk yang mereka sebut sebagai negara yang “demokratis”, jika populasi Rakyat Palestina melebih populasi orang Yahudi saat negara itu nanti terbentuk. Maka Ethnic Cleansing adalah salah satu metode untuk memenangi tujuan tersebut.

Peristiwa Sabra-shatilla tahun 1982 adalah juga sebuah contoh bagaimana kekejian militer Israel bekerja sama dengan kelompok bersenjata dukungan Israel di Lebanon membantai habis terhadap penduduk sipil, wanita dan anak-anak. Bukan melalui serangan udara, akan tetapi langsung berhadap-hadapan antara militer dan rakyat sipil.

Saat itu, perang yang terjadi di lebanon melibatkan banyak pihak. Ada Syria, Israel, Faksi pemberontak Libannon (phalang), dan pejuang palestina. Keberadaan kamp pengungsi di Lebanon dan juga sekaligus kantor Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) menjadi sebuah ancaman tersendiri bagi kelompok pemberontak Lebanon. Sementara Israel melihat posisi Lebanon jika tidak dibebaskan dari pengaruh Syria, yang selama ini selalu berkofrontasi dengan Israel sejak pendudukan dataran tinggi Gholan, akan mendapatkan keuatan baru dengan adanya dukung pejuang Palestina di Lebanon.

Maka tidak ada cara bagi Israel selain ikut menginvasi Lebanon dan bekerja sama dengan pasukan Phlangist Lebanon untuk menyerang baik Syiria maupun PLO yang saat itu di bawah kepemimpinan Yaser Aragat. Dan pada bulan September 1982 itu, pasukan IDF di bawah kepemimpinan Ariel Sharon sebagai Mentri Pertahanan, memberikan ruang bagi pemberontak Phalang, Lebannese Liberation Army untuk masuk ke kamp pengungsi Palestine. Sementara Pasukan Israel Defence Force dan pimpinan Phalangist Lebanese Militia mengkontrol situasi dari pos komando dan memastikan dengan mengawal wilayah kamp tersebut dari jarak beberapa ratus meter di luar kamp.

Tentara IDF dan pimpinan komando Phalangist mengikuti dengan seksama dan mengarahkan apa yang dilakukan oleh pemberontak Phalangist Lebanese itu di dalam kamp tersebut. Saat terdengar satu laporan yang masuk ke pos komando tentang apa yang harus dilakukan terhadap 50 orang wanita dan anak-anak yang saat itu ada dihadapan mereka. Elie Hobeika, komandan phalangist di pos komando bersama tentara IDF itu berkata,”Ini terakhir kalinya anda bertanya pada saya apa yang harus anda lakukan. Lakukan!” . (Kahan Commission of Inquiry Report, 8 February 1983)

Di akhir operasi di kamp pengungsi Sabra dan Shatila, pada akhirnya kita ketahui ribuan jiwa melayang dari rakyat tak bersenjata tersebut. Akan halnya bencana alam, yang kurang pasti berapa banyak korban mati, maka demikian pula malapetaka kemanusiaan sabra-shatila ini. ICRC menghitung sampai 2750 korban namun Lebanese Red Cross hingga berkisar 4000-4500 jiwa. (Al-hout, Bayan Nuwayhet, 2004, “Sabra-shatila September 1982”, Londo:Pluto Press, p.277). Pekerjaan mereka bervariasi, dari mulai guru, dokter/perawat, pemusik, tukang bengkel, pedagang pasar, teknisi dan ain-lain. (Ibid.).

Atas desakan dan demonstrasi jutaan orang di seluruh dunia, bahkan 450 ribu orang di Israel sendiri, pada akhirnya komisi Kahan atas tragedi sabra shatila ini merekomendasikan untuk mencopot Ariel Sharon sebagai Mentri Pertahanan Israel, yang terlibat langsung dalam koordinasi pada saat hari kejadian di lebanon disertai tujuh orang lainnya di pimpinan tertinggi IDF. Namun Ariel Sharon tetap menjabat sebagai mentri walaupun tanpa pos di pemerintahan kabinet Menachem Begin.

Namun Ironisnya, Ariel Sharon kemudian 19 tahun kemudian muncul kembali sebagai Perdana Mentri Israel. Sama seperti Yitzhak Shamir yang menjadi perdana mentri Israel dua kali (1983-1984 dan 1986-1992), yang juga pernah dipenjara karena membunuh utusan PBB Folke Bernadotte, tahun 1948 saat menjadi anggota teroris Lehi.

Ariel Sharon menjadi Perdana mentri dengan latar belakang terror yang mengerikan. Tidak saja dari sabra dan shatila, tapi banyak lagi, seperti peristiwa Qibya. Ariel sharon sebagao komandan lapangan mengeksekusi 69 orang di desa Qibya. Kebanyakan wanita dan anak-anak. 45 rumah, masjid dan sekolah hancur dibawah pimpinan operasi yang disebut Operasi Shosana. (Khalid Walidi, 2002, “The 1953 Qibya Raid Revisited: Excerpts From Moshe Sharett’s Diaries”, Jurnal Palestinian Studies XXXI NO.4, 2002).

Demikianlah daftar panjang yang sulit diungkapkan secara total satu per satu dalam tulisan singkat ini. Yang jelas, pembunuhan-pembunuhan keji atas rakyat sipil, wanita dan anak-anak, bukanlah sebuah pengalaman baru dan unik bagi tentara dan pemerintah Israel. Sebagaimana yang seolah-olah dikesankan baru-baru ini dengan menyebut korban sipil gaza adalah bentuk strategi Hamas sebagai pelindung, Human Shield. Namun tidak lebih adalah juga sebuah skenario matang dari pemerintah Israel. Ini adalah nature dari politik yang mereka jalankan selama ini.

Berikut adalah gambar-gambar yang saya kutip dari buku “Sabra-shatilla September 1982”

crop Sabra Shatila_Page_01 crop Sabra Shatila_Page_02 crop Sabra Shatila_Page_03 crop Sabra Shatila_Page_04 crop Sabra Shatila_Page_05 crop Sabra Shatila_Page_06 crop Sabra Shatila_Page_07 crop Sabra Shatila_Page_08 crop Sabra Shatila_Page_09 crop Sabra Shatila_Page_10 crop Sabra Shatila_Page_11 crop Sabra Shatila_Page_12 crop Sabra Shatila_Page_13 crop Sabra Shatila_Page_14 crop Sabra Shatila_Page_15 crop Sabra Shatila_Page_16 crop Sabra Shatila_Page_17 crop Sabra Shatila_Page_18 crop Sabra Shatila_Page_19 crop Sabra Shatila_Page_21

Advertisements

Leave a comment

Filed under Politik Internasional

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s